FELLYSA!
Hari ini begitu
melelahkan aku merasa hari ini adalah hari terburukku, aku masih termenung
mengingat kejadian tadi sore. Sore, saat aku memasuki parkiran motor ada
seseorang yang telah menungguku, dia mengajakku berkenalan. Awalnya aku merasa was-was
tapi ternyata dia orang yang sangat baik, di akhir pertemuan kami dia tidak
sungkan-sungkan meminta nomor handphone-ku.
Drrrrrt drrrrt
drrrrrt hp-ku bergetar, menandakan ada
sebuah pesan masuk. Aku melihat nomor yang tidak ku kenal, dengan cepat aku
membukanya
Sender :
+628575544XXXX
Receiver : Fellysa
Hi Fellysa, gua Fadly yang tadi sore
di parkiran :)
Aku ternganga
melihat apa yang baru aku dapatkan, aku tak menyangka ia akan menghubungiku
secepat ini, aku bingung antara membalasnya atau tidak karena ini baru pertama
kalinya aku mendapat sms dari orang yang baru mengenalku dalam waktu singkat.
Dengan pertimbangan yang cukup lama, aku memutuskan untuk membalas pesan
tersebut.
Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
Oh iya, ada apa kak?
Sender :
+628575544XXXX
Receiver : Fellysa
Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
Engga ka, emang kenapa?
Sender :
+628575544XXXX
Receiver : Fellysa
Besok aku jemput kamu ya pulang
sekolah :)
Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
Hah? Emang kakak tau sekolah aku?
Sender :
+628575544XXXX
Receiver : Fellysa
Udah tenang aja, yang penting besok
kamu bisa kan?
Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
Iya bisa, tapi pulangnya jangan sore-sore
ya ka
Sender :
+628575544XXXX
Receiver : Fellysa
Oke sip, tunggu aku besok :)
Aku masih tidak
percaya, besok ka Fadly akan mengajakku jalan. Padahal aku dan dia baru kenal
tidak lebih dari satu hari. ‘hmm akan ku ceritakan besok pagi ke Dinda’ kataku dalam hati.
***
“pagi Fel” sapa
Dinda, teman sebangkuku yang sedang sibuk dengan buku-buku dihadapannya.
“hai din, eh
emang ada pr?” tanyaku panik
“jangan bilang
lu lupa, hari ini kan ada pr jepang!” kata Dinda mengingatkan
“mampus gua
lupa! Din, liat din gua belom ngerjain tadi malem gua sibuk sama smsnya... “
kata-kataku tercekat karena melihat guru yang baru saja masuk
“sms siapa Fel?”
tanya Dinda penasaran
“udah ntar gua
ceritain” sahutku
“bener? Awas
kalo lu lupa! Ntar gua tagih” Dinda mengancam
“iya bawel,
udah perhatiin Pak Heri dulu gua gamau kena omel lagi kayak kemaren” balasku
cepat. Ya, seminggu yang lalu aku tertangkap basah oleh Pak Heri karena
ketahuan mengobrol dengan Dinda. Aku kapok dan aku sudah berjanji tidak akan
mengulanginya lagi, tapi anehnya Dinda santai-santai aja denga kejadian
kemaren. Ya mungkin itu udah kodrat dia, mungkin. Dinda memang tipe anak yang
santai, dan riang dia juga tipe orang yang mudah bergaul, sehingga dia memiliki
teman di berbagai kalangan dan daerah. Aku dan Dinda sudah dekat semenjak kami
duduk dikelas sepuluh. Dari awal kami memang sudah sebangku dan berteman baik.
Aku juga tidak jarang cerita banyak hal kepadanya, aku sudah mempercayainya
layaknya kakakku sendiri. Maka aku tak sungkan-sungkan untuk menceritakan isi
hatiku kepadanya.
Teeeeeeet
teeeeeeet teeeeeeet....
Bel berbunyi
tanda waktu istirahat telah tiba.
“ yeaaaaaaay!
Akhirnya!” sorak Dinda dengan semangat “sekarang lu cerita! Tadi malem smsan
sama siapa?” tanya Dinda tak sabar
“sabar, baru
juga selesai bel istirahatnya” keluhku. Itu salah satu kebiasaan Dinda yang aku
tidak suka, dia selalu tidak sabaran dan tidak jarang juga dia selalu ceroboh
karena itu.
“yaudah,
sekarang cerita Fellysa”
“iya iya, tadi
malem tiba-tiba gue dapet sms dari nomor yang ga dikenal. Awalnya gue bingung
itu siapa, ternyata dia itu Fadly orang yang kemaren sore kenalan sama gue, dia
minta gua nemenin dia jalan abis pulang sekolah ini..”
“dia anak sini
juga?” tanya Dinda antusias
“enggak, gatau
gue juga dia belom cerita makanya sore ini gua mau tau tentang dia, jadi gue
setujuin ajakannya deh” aku menambahkan
“hmmm yakin
gapapa? Butuh temen ga? Gue siap nemenin ko” Dinda tersenyum jail
“halah, bilang
aja lu mau kenalan juga kan? Hahahaha”
“hahahaha tau
aja lu Fel” tawa dinda meledak “yaudah kantin yu, laper gue”
“ayo!” sahutku
dengan semangat
***
“hei udah lama
nunggu ya?” tanya suara yang berada di sebelahku. Seseorang yang memakai T-shirt
polo warna putih dan mengendarai sebuah motor pulsar berwarna hitam.
“eh ka Fadly,
engga ko baru keluar tadi” jawabku. Aku tak percaya karena kedatangan ka Fadly
yang tiba-tiba dan penampilannya yang sangat elegan.
“ayo naik,
jangan bengong terus” ajak ka Fadly sambil menyerahkan helm kepadaku
“kita mau
kemana si ka? Ko pake helm segala? Emang jauh?”
“udah ikut aja”
kata ka Fadly. Aku menjadi bertanya-tanya dalam hati ‘aku mau dibawa kemana?
Apa aman?’ baru terpikirkan olehku bahwa tidak setiap orang yang terlihat
baik itu baik juga hatinya.
Sepanjang
perjalanan aku diam, tidak bertanya apapun pada ka Fadly begitu pula ka Fadly
sepanjang perjalanan ia hanya diam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri karena
aku belum mengetahui pasti akan kemana aku dibawa.
***
“Fel, disini
tempatnya” ka Fadly memberitahu
Aku tak bisa
berkata-kata. Aku terpesona dengan keindahan yang terpancar saat ini. Aku tak
tahu harus berkata apa pada ka Fadly, sampai akhirnya ka Fadly yang memulai
pembicaraan.
“bagus ya? suka
sunset?” tanya ka Fadly
“iya ka, suka
bangeeeet! Tapi ka, ini dimana?” tanyaku was-was
“ini masih
daerah jakarta ko, tenang aja. Nanti aku anterin pulang” Ka Fadly menenangkan
“Fel..” panggil Fadly
“iya ka?”
“ga usah pake
ka, panggil Fadly aja”
“iya ka eh dly”
jawabku canggung
“Fel, kenal
Feri?”
“iya kenal,
kenapa dly?”
“dia itu
adikku, makanya aku tau dimana sekolahmu. Karena adikku juga satu sekolah
denganmu kan?” aku mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar penjelasan dari
Fadly “sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama, aku tahu tentang kamu dari
Feri. Dia adalah sumber terakurat tentang kamu, dia juga orang yang dapat
dipercaya. Setiap hari Feri selalu laporan kepadaku apa yang kamu lakukan di
sekolah. Setelah sekian lama aku melakukan itu, ternyata aku merasa ada
perasaan yang tumbuh begitu kuat dalam diriku. Awalnya aku merasa itu hal yang
biasa, tapi semakin lama aku memendam perasaan ini semakin kuat pula rasa itu
tumbuh dan berkembang. Sampai sekarang ini, di tempat ini aku berhadapan
dengannya dan mengutarakan sebuah pengakuan bahwa aku menyukainya dan aku
berjanji akan selalu menjaganya walau tempat dan waktu akan memisahkannya”
Fadly menatapku seolah ia meminta jawaban dari pernyataan yang telah ia
utarakan. Tetapi aku masih belum dapat menerima apa yang barusan Fadly
jelaskan. Aku bingung dengan apa yang Fadly katakan barusan, haruskah aku
percaya padanya? Apakah benar bahwa dia adalah kakaknya Feri? Tapi menurutku ia
memang kakaknya Feri karena nama mereka mirip, hanya saja berbeda pada kata
awalnya Feri Dylan Kurniawan dengan Fadly Dylan Kurniawan
“ penyataan itu
butuh jawaban sekarang dly?” tanyaku hati-hati
“ya, jika kau
tidak keberatan”
Aku termenung
sejenak, ‘apa aku harus menerimanya? Apa ini tidak teralu singkat?’ aku
bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi aku percaya Fadly akan menjagaku,
dan akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan kata “ya” dari mulutku. Fadly
terlihat sangat senang saat mendengarnya, aku pun ikut bahagia melihatnya.
Setelah sekian
lama kami menikmati perasaan hangat yang ada pada diri kami masing-masing
ditambah kehangatan yang dipancarkan oleh sang matahari, akhirnya Fadly
memutuskan untuk mengajakku pulang. “pulang yuk, udah sore. Katanya kamu ga
boleh pulang sore-sore?” ajak Fadly “apa kamu masih betah disini?” tambah Fadly
“sebenernya
masih betah disini. Tapi harus pulang, besok kan aku masuk sekolah. Kita pulang
aja yuk dly”
“ayo, aku siap
kapan pun” Fadly tersenyum riang “jangan lupa helmnya ya Fel, oiya pake ini
biar ga kedinginan” Fadly menyerahkan jaketnya padaku.
“tapi nanti
kamu..”
“udah jangan
pikirin aku, aku gapapa” kata Fadly menyakinkan.
Fadly menepati janjinya, ia mengantarkanku
sampai depan rumah.
***
Sudah lima
bulan semenjak pengakuan Fadly kepadaku. Dan selama itu, hubunganku dengan
Fadly baik-baik saja. Fadly orang yang sangat pengertian, dan walaupun ia
termasuk orang-orang keren di sekolahnya dan menjadi pujaan para cewek di
sekolahnya. Ia tetap menyikapinya dengan sopan, jika ada yang tiba-tiba
menebaknya atau menginginkannya menjadi pacar ia menghargainya tetapi tidak
menerimanya, aku sempat merasa bangga karenanya. Sampai berita itu terdengar
oleh telingaku, aku tidak percaya dengan berita-berita burung tersebut.
Aku selalu
mencari tahu kebenaran apa yang sebenarnya terjadi, dan aku memutuskan untuk
menanyakan hal tersebut pada Feri. Saat aku mengunjunginya di kelas, ternyata
sudah lama Feri pun tidak masuk sekolah. Aku semakin bingung dimana aku dapat
membuktikan bahwa Fadly itu masih seperti yang dulu, tidak seperti apa yang
teman-temanya bicarakan.
Karena kekhawatiranku
yang sangat dalam untuk kakak beradik itu, aku jadi tidak pernah absen untuk
mondar-mandir di depan kelas supaya mendapatkan ide bagaimana cara aku dapat
menemukan dua orang kakak beradik itu. Dinda, merasa risih melihat tingkahku
“lu tiap hari
ga pernah absen mondar-mandir di depan kelas Fel” komentar Dinda
“gue bingung
Din, dua kakak adek itu kemana? Gua udah ke rumahnya, tapi kosong”
“ke bandung
kali ada urusan” jawab Dinda sekenannya
“kenapa ga
bilang-nilang dulu? Mana si Fadly ninggalin gosip pula, tambah kesel gue Din”
emosiku meledak “ga cuma itu aja Din, di jejaring sosial gue sering dicaci-maki,
gue gatau itu siapa dan gue ga kenal dia. Tapi ga jarang dia maki-maki gue
apalagi di twitter”
“udah, sabar
aja sih Fel. Dan soal orang ga jelas yang maki-maki lu di twitter. Udah diemin
aja, lagian lu juga gak kenal dia kan?” kata Dinda yang berusaha menenangkan
kegelisahanku
“yah oke semoga
aja mereka ga kenapa-kenapa, dan semoga orang ga jelas itu mendapat hidayah
biar ga maki-maki gue lagi” harapku.
“udah, sekarang
lu tenang, jangan dipikirin lagi si Fadly sama orang twitter yang ga jelas itu.
Inget sebentar lagi ujian lho Fel. Lu harus belajar! Lu gamau kan nilai lu
turun kayak kemaren?” Dinda menasehati
“hmmm iya,
yaudah bantu gue biar fokus ujian dulu ya Din”
“nah gitu,
pasti gue bantu ko” Dinda tersenyum
Ujian sudah
berlalu, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar dari Fadly maupun Feri. Aku
semakin bingung dan aku akhirnya memutuskan untuk tidak mau memikirkannya lagi.
‘ya mungkin, mereka pasti baik-baik saja’ batinku.
***
Toktoktok
toktoktok
“maaaa, ada
tamu tuh” teriakku dari dalam kamar
“coba suruh
masuk dulu Fel, mama masih sibuk didapur” perintah mama
“oke mah” aku
pun beranjak dari kasur, dan bergesas membukakan pintu kepada sang tamu
tersebut. Aku takut jikalau itu teman mama karena tidak sopan meninggalkan tamu
berdiam diri di depan rumah sambil menunggu sang pemilik rumah membukakannya.
Saat aku membukakan pintu
“hai Fel” sapa
sebuah suara yang akhir-akhir ini sudah tidak terdengar asing lagi di telingaku
“FADLY?! KEMANA
AJA KAMU?! AKU NYARI-NYARI KAMU TERUS TAU” tak terasa mataku memerah dan air
mataku jatuh membasahi pipi.
“Fel, maafin
aku kemaren ada urusan mendadak di Bandung. Jadi aku sama Feri langsung pergi
kesana tanpa ijin ke kamu sebelumnya” jelas Fadly
Aku tidak bisa
berkata-kata aku masih shock. Aku tidak dapat merimanya, tapi di lain
sisi aku juga bahagia karena Fadly tidak apa-apa
“ya, lain kali
jangan kayak gini lagi ya dly. Aku bingung harus nyari kamu kemana” kataku
setelah isakku mereda.
“iya, janji”
ucap Fadly
“yaudah masuk
yuk!” ajakku
Fadly
menjelaskan semuanya tentang kejadian kemarin. Ia juga menjelaskan kenapa
sampai ada kabar burung yang tidak enak itu. Ternyata ada salah satu teman
Fadly yang tidak suka denganku dan berusaha untuk mencelakaiku dan Fadly
berjanji akan menjagaku dan Fadly juga berjanji akan berusaha membantuku agar temannya
yang bernama Sheila itu tidak mencaci-maki aku lagi di jejaring sosial. Aku
lega mendengarnya.
Sebulan
kemudian, aku melihat perubahan dijejaring sosial, tidak ada lagi yang mencaci-makiku.
Dan Fadly menepati janjinya untuk selalu menjagaku, dengan begini aku tidak
perlu khawatir lagi memikirkannya, ‘semoga kejadian ini tidak terulang lagi’
doaku dalam hati.

0 komentar:
Posting Komentar