Click Here For Free Blog Backgrounds!!!
Blogaholic Designs

Kamis, 31 Mei 2012

ini hasil cerpenku bagaimana dengan mu?


FELLYSA!

Hari ini begitu melelahkan aku merasa hari ini adalah hari terburukku, aku masih termenung mengingat kejadian tadi sore. Sore, saat aku memasuki parkiran motor ada seseorang yang telah menungguku, dia mengajakku berkenalan. Awalnya aku merasa was-was tapi ternyata dia orang yang sangat baik, di akhir pertemuan kami dia tidak sungkan-sungkan meminta nomor handphone-ku.

Drrrrrt drrrrt drrrrrt hp-ku bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk. Aku melihat nomor yang tidak ku kenal, dengan cepat aku membukanya

Sender : +628575544XXXX
Receiver : Fellysa
            Hi Fellysa, gua Fadly yang tadi sore di parkiran :)

Aku ternganga melihat apa yang baru aku dapatkan, aku tak menyangka ia akan menghubungiku secepat ini, aku bingung antara membalasnya atau tidak karena ini baru pertama kalinya aku mendapat sms dari orang yang baru mengenalku dalam waktu singkat. Dengan pertimbangan yang cukup lama, aku memutuskan untuk membalas pesan tersebut.

Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
            Oh iya, ada apa kak?

Sender : +628575544XXXX
Receiver : Fellysa
            Gapapa, lagi bosen aja hehe.. besok Fellysa sibuk ga?

Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
            Engga ka, emang kenapa?

Sender : +628575544XXXX
Receiver : Fellysa
            Besok aku jemput kamu ya pulang sekolah :)

Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
            Hah? Emang kakak tau sekolah aku?

Sender : +628575544XXXX
Receiver : Fellysa
            Udah tenang aja, yang penting besok kamu bisa kan?

Sender : Fellysa
Receiver : +628575544XXXX
            Iya bisa, tapi pulangnya jangan sore-sore ya ka

Sender : +628575544XXXX
Receiver : Fellysa
            Oke sip, tunggu aku besok :)

Aku masih tidak percaya, besok ka Fadly akan mengajakku jalan. Padahal aku dan dia baru kenal tidak lebih dari satu hari. ‘hmm akan ku ceritakan besok pagi ke Dinda’  kataku dalam hati.

***

“pagi Fel” sapa Dinda, teman sebangkuku yang sedang sibuk dengan buku-buku dihadapannya.
“hai din, eh emang ada pr?” tanyaku panik
“jangan bilang lu lupa, hari ini kan ada pr jepang!” kata Dinda mengingatkan
“mampus gua lupa! Din, liat din gua belom ngerjain tadi malem gua sibuk sama smsnya... “ kata-kataku tercekat karena melihat guru yang baru saja masuk
“sms siapa Fel?” tanya Dinda penasaran
“udah ntar gua ceritain” sahutku
“bener? Awas kalo lu lupa! Ntar gua tagih” Dinda mengancam
“iya bawel, udah perhatiin Pak Heri dulu gua gamau kena omel lagi kayak kemaren” balasku cepat. Ya, seminggu yang lalu aku tertangkap basah oleh Pak Heri karena ketahuan mengobrol dengan Dinda. Aku kapok dan aku sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tapi anehnya Dinda santai-santai aja denga kejadian kemaren. Ya mungkin itu udah kodrat dia, mungkin. Dinda memang tipe anak yang santai, dan riang dia juga tipe orang yang mudah bergaul, sehingga dia memiliki teman di berbagai kalangan dan daerah. Aku dan Dinda sudah dekat semenjak kami duduk dikelas sepuluh. Dari awal kami memang sudah sebangku dan berteman baik. Aku juga tidak jarang cerita banyak hal kepadanya, aku sudah mempercayainya layaknya kakakku sendiri. Maka aku tak sungkan-sungkan untuk menceritakan isi hatiku kepadanya.

Teeeeeeet teeeeeeet teeeeeeet....
Bel berbunyi tanda waktu istirahat telah tiba.

“ yeaaaaaaay! Akhirnya!” sorak Dinda dengan semangat “sekarang lu cerita! Tadi malem smsan sama siapa?” tanya Dinda tak sabar
“sabar, baru juga selesai bel istirahatnya” keluhku. Itu salah satu kebiasaan Dinda yang aku tidak suka, dia selalu tidak sabaran dan tidak jarang juga dia selalu ceroboh karena itu.
“yaudah, sekarang cerita Fellysa”
“iya iya, tadi malem tiba-tiba gue dapet sms dari nomor yang ga dikenal. Awalnya gue bingung itu siapa, ternyata dia itu Fadly orang yang kemaren sore kenalan sama gue, dia minta gua nemenin dia jalan abis pulang sekolah ini..”
“dia anak sini juga?” tanya Dinda antusias
“enggak, gatau gue juga dia belom cerita makanya sore ini gua mau tau tentang dia, jadi gue setujuin ajakannya deh” aku menambahkan
“hmmm yakin gapapa? Butuh temen ga? Gue siap nemenin ko” Dinda tersenyum jail
“halah, bilang aja lu mau kenalan juga kan? Hahahaha”
“hahahaha tau aja lu Fel” tawa dinda meledak “yaudah kantin yu, laper gue”
“ayo!” sahutku dengan semangat

***

“hei udah lama nunggu ya?” tanya suara yang berada di sebelahku. Seseorang yang memakai T-shirt polo warna putih dan mengendarai sebuah motor pulsar berwarna hitam.
“eh ka Fadly, engga ko baru keluar tadi” jawabku. Aku tak percaya karena kedatangan ka Fadly yang tiba-tiba dan penampilannya yang sangat elegan.
“ayo naik, jangan bengong terus” ajak ka Fadly sambil menyerahkan helm kepadaku
“kita mau kemana si ka? Ko pake helm segala? Emang jauh?”
“udah ikut aja” kata ka Fadly. Aku menjadi bertanya-tanya dalam hati ‘aku mau dibawa kemana? Apa aman?’ baru terpikirkan olehku bahwa tidak setiap orang yang terlihat baik itu baik juga hatinya.
Sepanjang perjalanan aku diam, tidak bertanya apapun pada ka Fadly begitu pula ka Fadly sepanjang perjalanan ia hanya diam. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri karena aku belum mengetahui pasti akan kemana aku dibawa.

***

“Fel, disini tempatnya” ka Fadly memberitahu
Aku tak bisa berkata-kata. Aku terpesona dengan keindahan yang terpancar saat ini. Aku tak tahu harus berkata apa pada ka Fadly, sampai akhirnya ka Fadly yang memulai pembicaraan.
“bagus ya? suka sunset?” tanya ka Fadly
“iya ka, suka bangeeeet! Tapi ka, ini dimana?” tanyaku was-was
“ini masih daerah jakarta ko, tenang aja. Nanti aku anterin pulang” Ka Fadly menenangkan “Fel..” panggil Fadly
“iya ka?”
“ga usah pake ka, panggil Fadly aja”
“iya ka eh dly” jawabku canggung
“Fel, kenal Feri?”
“iya kenal, kenapa dly?”
“dia itu adikku, makanya aku tau dimana sekolahmu. Karena adikku juga satu sekolah denganmu kan?” aku mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar penjelasan dari Fadly “sebenarnya aku sudah mengenalmu sejak lama, aku tahu tentang kamu dari Feri. Dia adalah sumber terakurat tentang kamu, dia juga orang yang dapat dipercaya. Setiap hari Feri selalu laporan kepadaku apa yang kamu lakukan di sekolah. Setelah sekian lama aku melakukan itu, ternyata aku merasa ada perasaan yang tumbuh begitu kuat dalam diriku. Awalnya aku merasa itu hal yang biasa, tapi semakin lama aku memendam perasaan ini semakin kuat pula rasa itu tumbuh dan berkembang. Sampai sekarang ini, di tempat ini aku berhadapan dengannya dan mengutarakan sebuah pengakuan bahwa aku menyukainya dan aku berjanji akan selalu menjaganya walau tempat dan waktu akan memisahkannya” Fadly menatapku seolah ia meminta jawaban dari pernyataan yang telah ia utarakan. Tetapi aku masih belum dapat menerima apa yang barusan Fadly jelaskan. Aku bingung dengan apa yang Fadly katakan barusan, haruskah aku percaya padanya? Apakah benar bahwa dia adalah kakaknya Feri? Tapi menurutku ia memang kakaknya Feri karena nama mereka mirip, hanya saja berbeda pada kata awalnya Feri Dylan Kurniawan dengan Fadly Dylan Kurniawan
“ penyataan itu butuh jawaban sekarang dly?” tanyaku hati-hati
“ya, jika kau tidak keberatan”
Aku termenung sejenak, ‘apa aku harus menerimanya? Apa ini tidak teralu singkat?’ aku bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Tapi aku percaya Fadly akan menjagaku, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan kata “ya” dari mulutku. Fadly terlihat sangat senang saat mendengarnya, aku pun ikut bahagia melihatnya.

Setelah sekian lama kami menikmati perasaan hangat yang ada pada diri kami masing-masing ditambah kehangatan yang dipancarkan oleh sang matahari, akhirnya Fadly memutuskan untuk mengajakku pulang. “pulang yuk, udah sore. Katanya kamu ga boleh pulang sore-sore?” ajak Fadly “apa kamu masih betah disini?” tambah Fadly
“sebenernya masih betah disini. Tapi harus pulang, besok kan aku masuk sekolah. Kita pulang aja yuk dly”
“ayo, aku siap kapan pun” Fadly tersenyum riang “jangan lupa helmnya ya Fel, oiya pake ini biar ga kedinginan” Fadly menyerahkan jaketnya padaku.
“tapi nanti kamu..”
“udah jangan pikirin aku, aku gapapa” kata Fadly menyakinkan.
 Fadly menepati janjinya, ia mengantarkanku sampai depan rumah.

***

Sudah lima bulan semenjak pengakuan Fadly kepadaku. Dan selama itu, hubunganku dengan Fadly baik-baik saja. Fadly orang yang sangat pengertian, dan walaupun ia termasuk orang-orang keren di sekolahnya dan menjadi pujaan para cewek di sekolahnya. Ia tetap menyikapinya dengan sopan, jika ada yang tiba-tiba menebaknya atau menginginkannya menjadi pacar ia menghargainya tetapi tidak menerimanya, aku sempat merasa bangga karenanya. Sampai berita itu terdengar oleh telingaku, aku tidak percaya dengan berita-berita burung tersebut.

Aku selalu mencari tahu kebenaran apa yang sebenarnya terjadi, dan aku memutuskan untuk menanyakan hal tersebut pada Feri. Saat aku mengunjunginya di kelas, ternyata sudah lama Feri pun tidak masuk sekolah. Aku semakin bingung dimana aku dapat membuktikan bahwa Fadly itu masih seperti yang dulu, tidak seperti apa yang teman-temanya bicarakan.

Karena kekhawatiranku yang sangat dalam untuk kakak beradik itu, aku jadi tidak pernah absen untuk mondar-mandir di depan kelas supaya mendapatkan ide bagaimana cara aku dapat menemukan dua orang kakak beradik itu. Dinda, merasa risih melihat tingkahku  
“lu tiap hari ga pernah absen mondar-mandir di depan kelas Fel” komentar Dinda
“gue bingung Din, dua kakak adek itu kemana? Gua udah ke rumahnya, tapi kosong”
“ke bandung kali ada urusan” jawab Dinda sekenannya
“kenapa ga bilang-nilang dulu? Mana si Fadly ninggalin gosip pula, tambah kesel gue Din” emosiku meledak “ga cuma itu aja Din, di jejaring sosial gue sering dicaci-maki, gue gatau itu siapa dan gue ga kenal dia. Tapi ga jarang dia maki-maki gue apalagi di twitter
“udah, sabar aja sih Fel. Dan soal orang ga jelas yang maki-maki lu di twitter. Udah diemin aja, lagian lu juga gak kenal dia kan?” kata Dinda yang berusaha menenangkan kegelisahanku
“yah oke semoga aja mereka ga kenapa-kenapa, dan semoga orang ga jelas itu mendapat hidayah biar ga maki-maki gue lagi” harapku.
“udah, sekarang lu tenang, jangan dipikirin lagi si Fadly sama orang twitter yang ga jelas itu. Inget sebentar lagi ujian lho Fel. Lu harus belajar! Lu gamau kan nilai lu turun kayak kemaren?” Dinda menasehati
“hmmm iya, yaudah bantu gue biar fokus ujian dulu ya Din”
“nah gitu, pasti gue bantu ko” Dinda tersenyum

Ujian sudah berlalu, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar dari Fadly maupun Feri. Aku semakin bingung dan aku akhirnya memutuskan untuk tidak mau memikirkannya lagi. ‘ya mungkin, mereka pasti baik-baik saja’ batinku.

***

Toktoktok toktoktok

“maaaa, ada tamu tuh” teriakku dari dalam kamar
“coba suruh masuk dulu Fel, mama masih sibuk didapur” perintah mama
“oke mah” aku pun beranjak dari kasur, dan bergesas membukakan pintu kepada sang tamu tersebut. Aku takut jikalau itu teman mama karena tidak sopan meninggalkan tamu berdiam diri di depan rumah sambil menunggu sang pemilik rumah membukakannya. Saat aku membukakan pintu
“hai Fel” sapa sebuah suara yang akhir-akhir ini sudah tidak terdengar asing lagi di telingaku
“FADLY?! KEMANA AJA KAMU?! AKU NYARI-NYARI KAMU TERUS TAU” tak terasa mataku memerah dan air mataku jatuh membasahi pipi.
“Fel, maafin aku kemaren ada urusan mendadak di Bandung. Jadi aku sama Feri langsung pergi kesana tanpa ijin ke kamu sebelumnya” jelas Fadly
Aku tidak bisa berkata-kata aku masih shock. Aku tidak dapat merimanya, tapi di lain sisi aku juga bahagia karena Fadly tidak apa-apa
“ya, lain kali jangan kayak gini lagi ya dly. Aku bingung harus nyari kamu kemana” kataku setelah isakku mereda.
“iya, janji” ucap Fadly
“yaudah masuk yuk!” ajakku
Fadly menjelaskan semuanya tentang kejadian kemarin. Ia juga menjelaskan kenapa sampai ada kabar burung yang tidak enak itu. Ternyata ada salah satu teman Fadly yang tidak suka denganku dan berusaha untuk mencelakaiku dan Fadly berjanji akan menjagaku dan Fadly juga berjanji akan berusaha membantuku agar temannya yang bernama Sheila itu tidak mencaci-maki aku lagi di jejaring sosial. Aku lega mendengarnya.

Sebulan kemudian, aku melihat perubahan dijejaring sosial, tidak ada lagi yang mencaci-makiku. Dan Fadly menepati janjinya untuk selalu menjagaku, dengan begini aku tidak perlu khawatir lagi memikirkannya, ‘semoga kejadian ini tidak terulang lagi’ doaku dalam hati.








0 komentar:

Posting Komentar